
Perlu diingatkan Saya Orang awan seawam-awamnya, orang tidak terdidik dan tak pandai meruntut sebuah masalah. izinkan saya mengeluarkan beberapa pandangan dari kebodohan saya;
dan sebelum melanjutkan membaca artikel ini ada baiknya sedikit flashback [ silakan baca : Apa yang dimaksud se-Kufu ?? ]
aku mempertanyakan Konsep Kekufuan sebagai sebuah sebuah diskriminatif
Bukankah Islam menganut paham kesejajaran antar manuaia dengan tidak membedakan kebangsawanan, kekayaan, atau warna kulit? Bukankah menurut Islam manusia itu dibedakan hanya dari tingkatan takwanya ?
Sedangkan dalam konsep kufu terkandung pengertian ketidak sejajaran (ketidak sederajatan) antara dua manusia yang sebenarnya setara Islam jelas tidak diskriminatif, apa lagi rasialis, konsep kufu itu justru mengesankan Islam mentolerir sikap diskriminatif dan ada kalanya menjadi rasialis.
aku mempertanyakan konsef sekufu sebagai sebuah Cara Menilai dan Membandingkan Keimanan
secara bahasa Kufu itu adalah kesetaraan (kesebandingan atau kesetingkatan).
Jika ternyata dikotomi dalam pengertian sekufu itu dari keimanan. Saya rasa cara pandang manusia teramat berbeda dengan konsepsi cara pandang Tuhan.
kawan saya pernah berkata “siapa yang mampu menilai tingkatan iman seseorang kecuali Allah?”
Jika sekufu dinisbatkan ke dalam pengertian keimanan, bukankah semua orang itu sama imannya? Islam! Lantas mengapa sekufu ditekankan dalam mencari pasangan hidup?
aku mempertanyakan konsef sekufu sebagai syarat sah-nya nikah
sepanjang kedunguan saya, saya hanya mengetahui 4 syarat sah nikah, berikut diantaranya:
1.izin dari wali si wanita
2. keridhaan si wanita sebelum pernikahan.
3. adanya mahar (maskawin) yang diberikan kepada si wanita
4. dihadiri oleh dua orang saksi
apakah konsef sekufu sebagai syarat sah-nya nikah yg ke 5 ?
Apakah Konsep Ke-kufu-an bisa diperjuangkan ?
Jelas sudah kata sekufu membuat saya banyak merenung, meskipun terdengar manis tp mendengung terus ditelinga yang kadang menyentil sisi emosional sebagai bagian dari sebuah penolakan yang keras, menohok, menghantam dan mengingatkanku pada semua ketiksempurnaan diri.
biarkan aku berasumsi bahwa ini sebuah penolakan yang halus, yang secara tidak langsung menyangkut sisi materi dan kesenjangan ekonomi.
lalu sebagai mahluk yang diwajibkan berihktiar, masih layakkah semua ini dijadikan sebuah motivasi.
Apakah Konsep Ke-kufu-an masih boleh diperjuangkan oleh saya yang tidak sempurna ini ?
1 komentar:
bisaaaaaaaaa...
::testing komentar doang hihihi
Posting Komentar